Sekolah Legislatif 2025: Merajut Demokrasi dari Kampus, Cetak Legislator Muda Visioner di Era Smart Society - KARAWANG BICARA

Sabtu, 08 November 2025

Sekolah Legislatif 2025: Merajut Demokrasi dari Kampus, Cetak Legislator Muda Visioner di Era Smart Society

KARAWANG – Sekolah Legislatif 2025 sukses digelar pada Sabtu, 08 November 2025 bertempat di Aula Singaperbangsa, Kampus UNSIKA Karawang. Acara ini mengangkat tema “Merajut Demokrasi dari Kampus: Membentuk Legislator Muda Visioner sebagai Pilar Stabilitas Sosial di Era Smart Society.”

Hadir sebagai narasumber utama,"Pipik Taufik Ismail, S.Sos., M.M"., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Komisi IV, dan,"Lia Yulia, SH.I., M.Kesos.", Dosen FISIP Universitas Singaperbangsa Karawang.
Dalam pemaparannya, Pipik Taufik Ismail menekankan pentingnya partisipasi mahasiswa dalam politik sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam demokrasi. Ia menyampaikan bahwa generasi muda harus menjadi motor perubahan, bukan hanya penonton.

“Anak muda, khususnya mahasiswa, harus naik kelas dari sekadar penonton menjadi pelaku politik. Di era smart society seperti sekarang, tantangan bangsa semakin kompleks. Kita butuh legislator muda yang tidak hanya melek digital, tapi juga memahami persoalan sosial dan mampu merumuskan solusi secara strategis,” ujar Pipik.

Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat kecerdasan emosional dan moral dalam kepemimpinan politik. “Ilmu pengetahuan memang penting, tapi tanpa integritas dan empati, pemimpin akan kehilangan arah. Legislator muda harus berani berbeda, berani jujur, dan konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan elite,” tegasnya.

Lebih jauh, Pipik mendorong mahasiswa untuk mulai memahami proses legislasi, mulai dari penyusunan naskah akademik hingga advokasi kebijakan. Ia juga menekankan bahwa kampus bisa menjadi laboratorium demokrasi yang mencetak calon-calon pemimpin berkarakter dan solutif.

Sementara itu, Lia Yulia menyampaikan bahwa Gen Z memiliki potensi besar untuk menjadi aktor perubahan dalam tata kelola pemerintahan ke depan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus membekali diri dengan keterampilan afektif, integritas, dan kemampuan berpikir sistemik.

“Digitalisasi bukan sekadar soal teknologi, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menjadi pribadi yang tangguh secara mental, jujur dalam tindakan, dan peduli terhadap isu-isu sosial. Inilah modal utama legislator muda masa depan,” tutur Lia. 

Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif memahami proses legislasi dari hulu ke hilir. “Proses perumusan undang-undang bukan hanya urusan elite politik, tetapi menjadi ruang partisipasi rakyat, termasuk kalangan kampus. Maka, pemuda hari ini harus belajar sejak dini, bukan hanya jadi penonton demokrasi,” tegasnya.

"Lia Yulia" menambahkan, Gen Z harus mampu memperkuat kecerdasan afektif dan kepedulian sosial. “Kepemimpinan di era digital bukan hanya soal teknologi, tapi bagaimana menggabungkan kecerdasan emosional, moral, dan logika dalam merespons isu publik,” ujarnya.

Sekolah Legislatif ini menjadi sarana membentuk karakter pemuda yang siap menjadi legislator visioner, berdaya saing, dan berakar kuat pada nilai-nilai demokrasi.

Kegiatan ini menjadi wadah penting untuk mencetak generasi politisi masa depan yang siap menjawab tantangan zaman dan memperkuat pilar demokrasi berbasis pengetahuan, nilai, dan inovasi.


Penulis: Ferimaulana
Comments
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done